• Chose Language

  • Flag Counter

    free counters
  • Visitors counter

    • 24,348 Visitors
  • Review mengenaljepang.wordpress.com on alexa.com
  • readbud - get paid to read and rate articles
  • Internet Marketing

Yang unik di Jepang

shushi set tiruan

shushi set tiruan

shushi set asli

shushi set asli

yang pertama adalahtentang sampel makanan. Bagi orang yang pertama kali

melihat, mungkin akan mengira bahwa makanan yang biasanya dipajang di depan etalase toko adalah makanan betulan. Bentuk dan warnanya sangat menggoda kita untuk segera memakannya. Padahal itu semua hanya sampel makanan yang terbuat dari lilin. Bentuknya sangat unik dan mirip sekali dengan makanan aslinya, bahkan justru pada beberapa sampel makanan lilin itu malah lebih bagus penampilannya daripada makanan aslinya. Saya sendiri dulu sering terkecoh lho karena mengira itu sampel makanan asli. Kalau untuk makan malam, saya biasa membeli nasi bento (bento man) di kantin dekat apato. Alasannya, karena selain harganya relatif murah, kita juga bisa mendapatkan beberapa lauk yang dapat mencukupi kebutuhan gizi kita. Tapi sebenarnya ada alasan lain yang membuat saya selalu membeli bento man itu. Jadi di kantin itu suka memberikan sampel bento yang terbuat dari lilin pada setiap pembeli. Harga bentonya sendiri nggak terlalu mahal, hanya sekitar 310-400 yen. Tapi yang penting saya bisa mendapatkan sampel lilinnya itu. Hehehe… Lumayan juga buat koleksi. Masih tentang sampel makanan, ada satu lagi hal unik yang berkaitan dengan itu. Hampir di seluruh toko yang menjual makanan dan memajang sampel makanan di etalasenya, ternyata menyebutkan juga kandungan kalori di setiap makanannya. Di depan sampel makanan tersebut, biasanya tertulis jumlah kalori yang terkandung dalam makanan tersebut. Setiap makanan mengandung beragam besaran kalori, bahkan yang terbesar ada yang mencapai lebih dari 1.000 kalori dalam satu makanan. Penyebutan kandungan kalori ini mungkin terlihat sepele, tetapi nyatanya dapat membantu kita dalam mengontrol asupan kalori dalam tubuh kita. Hmmm… mungkin ini kali ya alasannya kenapa kebanyakan orang Jepang itu kurus-kurus alias jarang ada yang gemuk. Mereka dapat mengatur asupan kalori mereka setiap membeli makanan. Makanya berat badannya jadi mudah terkontrol. Hal menarik lainnya, kita bisa juga menemukan roti/kue yang kalau di Indonesia dikenal dengan Roti Unyil. Disebut Unyil mungkin karena bentuknya yang mungil dan imut, seperti tokoh Unyil dalam acara khusus anak-anak jaman dulu. Lalu apa yang unik dan membedakan dengan roti unyil di Indonesia? Kalau di Indonesia kan biasanya kita membeli roti ini dengan boks yang kadang agak merepotkan. Apalagi roti-roti kecil itu tidak dikemas di dalam plastik. Jadinya kan kurang higienis. Nah… kalau di Jepang ada juga kue sejenis itu. Di lokasi perbelanjaan Nakamise, di Tokyo, kita akan mendapati padagang yang menjual kue yang sejenis. Bedanya, kalau pedagang yang di Nakamise itu sudah menggunakan mesin dalam proses pembuatan kue-nya. Kita bisa menyaksikan langsung cara pembuatan kue yang hanya berlangsung beberapa detik saja. Selain itu, kue juga dimasukan dalam kemasan plastik yang higienis dan mudah dibuka. Kemudian baru dimasukkan ke dalam kantong sehingga mudah ditenteng. Ada perilaku orang Jepang yang menarik berkaitan dengan acara info prakiraan cuaca ini. Kalau kita, orang Indonesia, umumnya pasti tidak akan terlalu mempedulikan bagian acara yang satu ini kan. Yang biasa dicari dari menonton acara berita biasanya hanya berkisar berita-berita uptodate yang sedang ramai menjadi topik pembicaraan. Tapi begitu acara berita tersebut menampilkan info prakiraan cuaca, orang Indonesia umumnya tidak terlalu antusias, bahkan terkadang memindahkan ke channel lain. Namun, hal yang berbeda dapat kita temukan pada perilaku orang Jepang. Entah kenapa, mungkin ini hanya pengamatan saya saja, ternyata mereka sangat antusias menyimak info prakiraan cuaca setiap harinya. Rasanya seperti ada yang ketinggalan atau tidak afdhol kalau tidak menyimak info prakiraan cuaca. Orang Jepang umumnya merasa sangat perlu dengan info prakiraan cuaca yang disampaikan. Mungkin ini ada kaitannya dengan kebiasaan mereka yang suka bepergian dengan berjalan kaki atau menggunakan angkutan umum seperti kereta atau bus. Iya beneran… yang saya rasakan dan perhatikan, mereka itu sangat suka bepergian sambil jalan kaki. Selain itu, orang Jepang suka bepergian dengan menggunakan angkutan umum bukan berarti mereka nggak punya kendaraan lho! Banyak di antara mereka yang punya mobil atau motor, tetapi ketika pergi ke kantor misalnya, mereka lebih memilih naik kereta atau bus. Sedangkan mobil biasanya mereka gunakan kalau mereka bepergian bersama-sama keluarga. Berhubungan dengan kebiasaan mereka itu, bisa dibayangkan dong kalau seandainya mereka sedang bepergian, lalu tiba-tiba cuacanya berubah dengan drastis dari cerah menjadi hujan lebat, pastinya akan sangat menyulitkan mereka. Dengan menyaksikan info prakiraan cuaca terlebih dahulu, maka mereka akan dapat melakukan persiapan seperti membawa payung atau jas hujan kalau mereka akan bepergian. Uniknya lagi, pemerintah Jepang dan unsur-unsur lainnya yang terkait, sangat peka dengan kebiasaan rakyatnya sendiri. Jepang menyadari kondisi cuacanya yang dapat berubah seketika sehingga dapat merepotkan penduduknya. Hal yang mungkin dianggap sepele oleh kita (baca: Pemerintah Indonesia), tetapi nampaknya malah menjadi perhatian bagi Jepang. Lalu apa bentuk perhatian Jepang akan fenomena ini? Kalau teman-teman ada di Jepang, kemudian masuk ke sarana-sarana publik seperti misalnya hotel atau pusat pertokoan, maka teman-teman akan menyaksikan bahwa di semua pertokoan dan hotel akan menyediakan plastik kecil untuk kantong bagi payung yang basah. Plastik-plastik ini dibagikan gratis untuk semua pengunjung. Jadi, setiap pengunjung tidak perlu merasa repot dan terganggu dengan payung bawaan mereka yang basah setelah dipakai. Selain itu, ada juga beberapa tempat, seperti hotel yang menyediakan “tempat parkir” payung. Bagi pengunjung yang membawa payung, ketika mereka masuk pusat perbelanjaan atau hotel, maka mereka bisa “memarkirkan” payungnya di sebuah lubang yang telah disediakan. Disediakan juga kunci khusus sehingga mereka bisa menguncinya. Pemilik payung dapat membawa kunci itu, lalu jika mereka akan kembali pulang, mereka pun dapat mengambil payung mereka tanpa khawatir tertukar dengan payung yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: